Language:
Indonesia

WHO Siap Mencantumkan Gaming Disorder Sebagai Gangguan Mental

By Basmal Fagiansyah On Jan 3, 2018

Image credit: makeuseof
Image credit: makeuseof

Lembaga World Health Organization atau yang dikenal juga dengan WHO, telah meluncurkan daftar terbaru tentang klasifikasi isu penyakit. Dalam daftar yang dibuat salah satu organisasi di bawah naungan PBB itu, terdapat golongan penyakit terbaru yang bernama “gaming disorder”.

Menurut WHO, salah satu tanda orang mulai terkena gaming disorder adalah adanya pola perilaku persisten atau berulang ketika memainkan sebuah game baik online maupun offline. Ada tiga sikap dimana orang dapat dikatakan menderita gaming disorder.

Pertama tidak bisa mengendalikan dirinya ketika bermain game, baik tidak bisa mengakhiri, tidak bisa mengendalikan intensitas, frekuensi, hingga durasi dari bermain game itu sendiri. Kedua, meningkatkan prioritas bermain game dan lebih mengutamakannya ketimbang kepentingan hidup dasar lainnya sehari-hari. Ketiga, tetap memainkan game meski akibatnya sudah diketahui berdampak buruk terhadap diri penderita tersebut.

Untuk akibatnya WHO menjelaskan penderita gaming disorder akan mendapatkan resiko penurunan nilai-nilai signifikan dalam hidup kepada kehidupan pribadinya seperti keluarga, sosial, edukasi, serta pekerjaan. WHO melanjutkan, gaming disorder bisa menjadi sebuah kondisi yang berlanjut atau datang secara tiba-tiba alias episodic. Penderita gaming disorder akan menunjukkan perilaku kecanduan ini kurang lebih selama satu tahun atau lebih lama.

Pencantuman Gaming Disorder sebagai penyakit mental terbaru yang dibuat oleh WHO ini, tentunya memunculkan kontroversi dan mendapatkan tanggapan yang beragam dari banyak pelaku industri gaming.

Salah satu contohnya dikutip dari Gamespot, Dr. Richard Graham spesialis dari kecanduan teknologi mengatakan dirinya setuju terhadap langkah yang diambil WHO ini. Menurutnya isu ini dapat membuka kesempatan layanan yang lebih khusus. Namun disaat yang bersamaan dia juga berpendapat hal ini dapat membingungkan para orang tua untuk mengenali perilaku dari anaknya. Dr. Richard Graham mengatakan bisa saja para orang tua mengambil tindakan yang salah ketika menghadapi anaknya yang hanya menjadi seorang penikmat video game.

Sementara untuk pernyataan yang jelas-jelas menolak sikap WHO ini datang dari lembaga Entertaiment Software Association (ESA) yang selama ini menjadi event organizer acara E3. Menurut mereka para gamer seperti para penggemar olah raga, mereka hanya bergairah dan mendedikasikan waktu untuk bermain game. Video game tidak menyebabkan kecanduan sama sekali.

Draft dari gaming disorder yang terangkum dalam International Classification of Diseases (ICD) ini sebenarnya masih belum final. WHO masih mempertimbangkan apakah gaming disorder perlu untuk dimasukan ke dalam ICD sendiri. Well, kalau Hubbers setuju tidak sama keputusan dari WHO ini?

Tags / Keywords:
Basmal Fagiansyah
Tentang Penulis
Writing.. Gaming... Watching....
Comments
We need a new party member