Language:
Indonesia

Poster Game Ini Batal Beredar di Indonesia karena Terhambat Masalah Pajak?!

By Christa Adventa On Feb 27, 2018

Image credit: Monster Hunter World
Image credit: Monster Hunter World

Belum lama ini, bea cukai sempat menghebohkan masyarakat dengan beragam aturan baru, seperti SNI pada mainan salah satunya. Selain itu, beberapa orang yang membeli mainan maupun barang dari luar negeri harus mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Mereka terpaksa membayar biaya pengiriman dalam jumlah yang sangat besar, serta menunggu barang tiba dalam jangka waktu yang sangat lama. Hal ini terjadi pada salah satu narasumber bernama Juandro Jonathan.

Juandro Jonathan dikenal sebagai sosok yang bekerja di industri game, khususnya bagian distribusi. Dia berperan sebagai Country Manager atau Contry Representative di Maxsoft. Jonathan lebih sering mengurus bagian distribusi game di Indonesia, meskipun kantor pusatnya berada di Singapura dan Jepang. Maxsoft berfokus pada distribusi berbagai judul game Nintendo dan PlayStation 4. Selain game, ada juga aksesoris dan perangkat keras khusus gaming yang dijual dan dikirim ke Indonesia.

Sebagai salah satu sosok yang berkecimpung di perusahaan game, Jonathan sempat mengalami kasus yang kurang menyenangkan terkait pengiriman barang impor. Suatu hari, salah satu penerbit game mengirimkan barang berupa poster game Monster Hunter World melalui perusahaan tempat Jonathan bekerja. Di awal, dia telah membayar biaya pengiriman sesuai invoice. Nahas, ketika pengiriman tidak sesuai dengan target waktu, dia diminta untuk membayar biaya tambahan yang dianggap kurang masuk akal.

"800 ribu itu katanya biaya tambahan. Pajak pertama katanya biayanya kurang, padahal mereka dah kasih invoice. Di situ sudah tertulis biaya pajak sekian. Itu sudah ada buktinya lengkap. Terus dia nambahin jadi totalnya 2,1 juta, ditambah-tambahin isinya. Pajaknya aslinya enggak segitu, tapi ditambahin aja," ujar Jonathan ketika diwawancarai oleh Gamehubs.

Ketika pihak bea cukai mengirimkan pesan ke Jonathan, tertulis bahwa kasus yang dialaminya terkait dengan undang-undang tentang kepabeanan. Masalah ini berdasarkan peraturan undang-undang kepabeanan 1995 pasal 43 ayat 2 berbunyi, "Dalam hal barang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara, jangka waktu penimbunan barang paling lama tiga puluh hari sejak penimbunannya." 

Selain pasal 43, juga berkaitan dengan undang-undang yang sama, namun pasalnya berbeda, yaitu pasal 65 ayat 1a dan 2. Pasal 65 ayat 1a berisi, "Barang yang dinyatakan sebagai barang tidak dikuasai adalah: a. barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat yang telah dicabut izinnya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 47." Sedangkan pasal 65 ayat 2 berbunyi, "Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan di Tempat Penimbunan Pabean dan dipungut sewa gudang yang ditetapkan oleh Menteri."

Kenyataannya, poster Monster Hunter World milik Jonathan sudah menjalankan prosedur pengiriman dengan baik, tetapi lebih dari 30 hari belum kunjung tiba. 

"Saya sudah bayar sesuai bukti, tetapi barangnya enggak keluar. Ini sudah mau satu bulan, barang dikirim tanggal 10 Januari kemarin. Kita sebenarnya sudah bayar sejak Januari. Pas tahap pertama, kita sudah bayar. Pas invoice dia minta, kita langsung bayar. Game-nya juga mau keluar tanggal 26 Januari. Pas barangnya belum keluar, ya sudah saya pasrah. Tanggal 7 Februari, mereka nagih saya 800 ribu Rupiah dari 1,3 juta yang sudah dibayar." ucapnya.

Setelah kejadian tersebut, Jonathan langsung menghubungi pihak bea cukai dan forwarder. Dia menghubungi kedua pihak tersebut melalui telepon dan email. Pihak bea cukai menanggapi bahwa kasus tersebut merupakan bagian forwarder, bukan mereka. 

"Kalau lewat telepon, mereka responnya itu kayak, 'Oh itu kan bagiannya si forwarder tersebut.' Jadi, saya waktu itu pakai F*d*x. Katanya itu bagian F*d*x, dan dia punya orang sendiri yang ngurus ke pajak katanya. Kalau kata bea cukai, ini bukan urusannya mereka. Terus saya mikir, ini kan masalah pajak juga," ujar Jonathan. Dia mengaku bahwa ketika menagih pihk bea cukai, mereka hanya menjawab 'sedang proses pemeriksaan fisik' secara berulang-ulang. Selain itu, pihak forwarder juga hanya meminta pembayaran tanpa solusi lain.

Seusai mengalami kejadian tersebut, Jonathan berpendapat bahwa kasus ini disebabkan karena aturan baru pajak yang dibuat terlalu rumit. Akan tetapi, dia juga mengungkapkan bahwa kasus ini kemungkinan bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu sebagai ladang mereka sendiri. Selain itu, poster yang seharusnya dikirim lebih cepat bukanlah produk untuk dijual lagi, melainkan sebagai produk gratisan untuk kebutuhan marketing dan dibagi-bagikan ke pelanggan yang membeli Monster Hunter World.

 

SIMAK JUGA BERITA SEPUTAR GAME LAINNYA DI GAMEHUBS.COM

Christa Adventa
Tentang Penulis
A nerdy alien who is having an interest in indie games, retro games, Nintendo, and cute stuffs. I will try to play horror games someday. Yay!
Comments
We need a new party member