Language:
Indonesia

Banyak Peristiwa Penembakan, Video Game Kembali Disalahkan

By Basmal Fagiansyah On Mar 2, 2018

Image credit: Charismanews
Image credit: Charismanews

Masalah kebijakan senjata dan teror penembakan yang terjadi di sekolah-sekolah Amerika Serikat mungkin kerap kali mengundang perhatian internasional. Saat ini, pemerintah Amerika Serikat tengah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk mengurangi gejolak kekerasan itu. Bahkan terakhir timbul perdebatan yang cukup serius.

Salah satu isunya datang dari Matt Bevin gubernur dari wilayah Kentucky, Amerika Serikat. Beliau menyatakan bahwa video game dengan tema kekerasan bertanggung jawab terhadap perilaku remaja yang membuat mereka tidak lagi peka terhadap kenyataan tragis dan kematian yang abadi itu sendiri.

Pernyataan dari Matt Bevin memang belum benar-benar dengan jelas menyinggung soal insiden mass-shooting yang semakin sering terjadi belakangan ini. Tetapi jelas, ucapan dari Matt Bevin itu seakan menyindir mereka yang berkerja membuat video game. Kontan, langsung banyak perdebatan yang muncul. Baik yang mendukung Matt Bevin maupun yang kontra dengannya.

Belum habis perdebatan isu Matt Bevin, muncul lagi masalah yang mengaitkan video game dengan penembakan massal. Kali ini kejadiannya menimpa seorang pelajar berumur 16 tahun di wilayah Chicago Amerika Serikat.

Seperti yang dilansir dari Chicago Tribune, harian tersebut mengatakan sang pelajar awalnya beradu argumen tentang senjata dan keamanan sekolah. Perdebatanya berlangsung setelah insiden di Parkland yang menewaskan 17 orang murid serta guru.

Image credit: pcmag.com
Image credit: pcmag.com

Dilaporkan sang pelajar mengunggah sebuah video melalui Snapchat yang menayangkan dirinya sedang bermain video game tembak menembak dengan tambahan caption “Y’all need to shut up about school shootings or I’ll do one.” Artinya, kamu semua harus berhenti membicarakan penembakan sekolah atau saya akan lakukan.

Tidak mau mengambil resiko, pihak kepolisian setempat langsung merespons ancaman yang diberikan oleh pelajar itu. Dia pun ditangkap dan diadili. Bahkan seisi rumahnya juga turut digeledah oleh petugas kepolisian. Memang tidak ada satu pucuk senjata pun yang ditemukan di rumahnya. Tetapi proses penyelidikan terus berlangsung sampai pengadilan.

Setelah sampai di pengadilan, pembela umum sempat menyatakan klienya itu hanya sedang bercanda saja. Namun pihak jaksa bersikeras, penembakan massal bukanlah bahan bercandaan. Akhirnya, hakim Robert Anderson memutuskan sang remaja untuk menjadi tahanan rumah.

Selain itu Robert Anderson juga meminta ponsel yang dipegang oleh pelajar itu harus dikembalikan kepada orang tuanya. Bahkan sang hakim langsung melarang sang pelajar untuk tidak lagi bermain game dengan tema kekerasan.

“Kamu bisa bisa bermain semua game Mario Kart yang kamu inginkan,” Jelas Robert Anderson yang dikutip dari Chicago Tribune.

Sekarang video game dengan tema kekerasan memang sedang menjadi perhatian khusus pemerintah Amerika Serikat. Muncul isu lainnya untuk menaikan pajak bagi video game yang beredar dengan tema kekerasan.

Semoga saja ‘tren’ yang sedang terjadi di Amerika Serikat itu tidak sampai ke Indonesia. Lebih baik segera kita cegah bersama sedini mungkin. Bukan soal game dengan tema kekerasan yang dilarang beredar. Tapi pengawasan yang ketat dari pemerintah terhadap video game tersebut, yang kenyataanya saat ini masih banyak dimainkan oleh muda-mudi di bawah umur.

Tags / Keywords:
Basmal Fagiansyah
Tentang Penulis
Writing.. Gaming... Watching....
Comments
We need a new party member