Language:
Indonesia

4 Perbedaan Paling Mencolok Antara Game Jadul dan Masa Kini

By Basmal Fagiansyah On Jun 29, 2017

Image credit: Vrzone
Image credit: Vrzone

Video game zaman dahulu pasti sulit dilupakan. Biar pun gameplay atau grafiknya sederhana, entah mengapa kenangan dan keseruan memainkan game-game jadul tidak akan terasa sama lagi ketika bermain game di platform teranyar.

Ada momen-momen dimana kecanggihan dari sebuah platform generasi terbaru malah membuat kualitas bermain game itu sendiri menjadi kurang. Kecuali Dark Souls, mungkin game zaman sekarang begitu terasa mudah untuk diselesaikan. Setelah memainkannya pun kita sering kali sudah lupa dan tidak ingin mencobanya lagi. Kira-kira apa saja perbedaan paling mencolok antara game jadul dan masa kini?

Microtransactions

Image credit: quickmeme
Image credit: quickmeme

Sebenarnya bila nilai mata uang zaman sekarang dan zaman dahulu disamakan, mungkin harga game masih tetap sama, tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Anggapan bahwa game zaman sekarang adalah hal yang mahal dibanding game zaman dahulu tentunya salah kaprah.

Mungkin yang membuat para pemain merasa malas untuk membeli game karena adanya fitur microtransaction ini. Meskipun tidak diwajibkan, kerap kali dalam game zaman sekarang pemain diharuskan untuk membeli sesuatu selain dari game aslinya sendiri. Seperti item atau kostum khusus untuk menjadi pemenang, termasuk untuk menghilangkan iklan. (Baca juga: Seperti Apa Bentuk dan Desain PlayStation 5? Yuk, Kita Intip!)

DLC

Image credit: Reddit
Image credit: Reddit

Pernah mendengar One day update? Game AAA sebenarnya sudah banyak yang memanfaatkan fitur ini untuk meraup keuntungan. Biasanya One day update akan terjadi setelah game dirilis pada hari pertama. Pembaruan itu pun biasanya langsung memberikan DLC khusus bagi para pemain dengan harga yang tidak gratis.

Sudah membeli game dengan harga 500 ribuan, kemudian ditambah membeli DLC agar mendapatkan konten terbaru tentu menyebalkan. Para gamer zaman dahulu biasanya hanya membeli game, kemudian menyelesaikannya. Bila developer ingin mengeluarkan sesuatu yang baru, DLC tidak ada, malah mereka membuat seri terbaru versi penuh.

Grafik

Image credit: Memecenter
Image credit: Memecenter

Untuk yang satu ini mungkin tergantung dari tiap pemain, bagaimana mereka menyikapinya. Ada yang senang dengan tampilan grafis mulus tapi juga tidak sedikit yang merindukan grafis piksel ala Minecraft. Grafik mulus tidak selalu menghasilkan game yang baik, contohnya seperti yang terjadi dalam game Mass Effect Andromeda.

Grafik dalam game tersebut sangat baik dan terkesan megah. Namun, karakter yang ada malah terlihat jadi aneh dan tidak manusiawi dalam bertingkah. Semakin tinggi kualitas grafiknya, maka muncul masalah lain, yakni timbulnya bug. Beruntung Mass Effect Andromeda masih diperbarui terus, meski sudah dinilai ‘buruk’ oleh beberapa orang.

Jalan cerita

Image credit: quickmeme
Image credit: quickmeme

Salah satu kekuatan dari game jadul adalah jalan cerita, bukan dari segi grafik. Bayangkan dulu game Zelda yang masih mengandalkan grafik piksel. Seandainya game tersebut membawa game dengan jalan cerita yang biasa, niscaya Zelda tidak akan menjadi legenda hingga sekarang. Kasus yang sama mungkin terjadi pada Harvest Moon: Back To Nature.

Game zaman sekarang tidak selalu berfokus pada jalan cerita. Malah kalau Hubbers ingin mendapatkan jalan cerita terbaru, Hubbers harus membeli dulu sebuah DLC yang telah disiapkan. Bahkan banyak game mobile yang terlalu memaksakkan jalan ceritanya, hingga pemain pun merasa tidak ikut menyatu dalam game tersebut. Tujuan mereka sudah berubah yakni, menyelesaikan game kemudian memamerkannya. Bukan lagi mengetahui ending dari cerita game dan kepuasan batin masing-masing. (Bava juga: Ngaku fans AoT, Sudah Main 5 Game Ini Belum?)

Tags / Keywords:
Basmal Fagiansyah
Tentang Penulis
Comments
We need a new party member